Mama Saya vs. Pingkan Mambo

Menghadiri sebuah event di mall antah berantah yang setengah jadi can’t still can be fun.

Alkisah, saya dan Mama memenangkan goody bag dari Femina. Nah, goody bag ini harus diambil di event Debut Wajah Femina 2008. Tidak masalah. Toh, event-nya juga Cuma semacam fashion show mini yang bisa dinikmati ibu saya. Event ulang tahunnya Prambors di Fashion Café saja beliau mau kok menemani saya yang ketika itu masih SMA.

Yang menjadi masalah adalah event ini diadakan di Centro Mall of Indonesia. Mmm, apa? Iya, saya juga baru dengar. Eh, nggak juga deh, saya pernah sekilas membaca di website-nya Blitz Megaplex bahwa mereka akan buka di Mall of Indonesia (MOI) di Kelapa Gading. Tapi di manakah tepatnya Mall of Indonesia itu?

Usaha pertama saya adalah bertanya pada Yus, teman saya, yang mengaku sangat cukup fasih kalau menyangkut daerah Kelapa Gading karena pacarnya mantan pacarnya tinggal di sana. Jawaban yang saya dapat,”Grand Indonesia di Thamrin kali, mamen.” Itu mah gue juga tau.

Usaha kedua, meminta Yus bertanya pada sang mantan. Dengan senang hati susah payah mengalahkan egonya, Yus akhirnya menghubungi sang mantan untuk usaha PDKT lagi membantu saya. Jawaban sang mantan, “Ada juga Grand Indonesia yang di Thamrin.” Oh yeah, no wonder they two were in love once.

Usaha ketiga, bertanya pada kakak saya yang biasanya lebih canggih daripada GPS. Jawabannya, “Mall of Indonesia? Mendingan ke Kelapa Gading aja, Mbak. Di sana kan bagus juga.” Geez

Usaha keempat, menghubungi 108 untuk bertanya nomor telepon Blitz MOI jadi saya bisa menanyakan jalan menuju ke sana. “Telkom 108 dengan Anu, bisa dibantu? – Iya, Bu? Blitz Mall of Indonesia? Ditunggu sebentar. – Maaf, Ibu, untuk nomor Blitz Megaplex Mall of Indonesia kebetulan belum terdaftar.” Oh, yeah, masak ketika mereka masang telepon kalian tidak memasukkannya ke database 108?

Usaha kelima, menghubungi Blitz Pacific Place untuk menanyakan nomor telepon Blitz MOI. Jawabannya, “Blitz MOI?  45868100, Mbak.” Oh, thank you, Lord! Saya pun iseng menanyakan di mana letak Blitz MOI pada mbak-mbak Blitz PP yang menjawab telepon. “Oh, Mbak, keluar tol Cempaka Putih atau Cempaka Mas aja, ambil arah ke Artha Gading, terus belok kiri, nanti masuk Boulevard, langsung kelihatan kok.” Oh, finallyyy…! It was about time someone had an answer where the hell MOI was!

Setelah perjuangan panjang mencari tahu sedikit panduan menuju ke sana, Mama menelepon. “Mbak, Mama udah OTW ke kos Mbak nih sama Indra. Terus kita kan nggak tau di mana MOI itu, ini ada nomor telepon orang Femina-nya kemaren Mama tanya. Mbak telepon aja mbak Femina-nya ya, tanya jalan.” Coba kalau ibu saya berinisiatif member tahu saya hal ini dari kemarin atau setidaknya tadi pagi…

Setelah menghubungi mbak-mbak Femina yang bertugas untuk lebih pastinya, berangkatlah kami menuju Kelapa Gading. Kami di sini adalah saya, Mama, Indra (adik saya), dan Citra, pacar Indra. Pacar saya?  Pacarmu lg memeras otak n keringat dl car. Klo kt maknyus ‘demi masa depan kita’ :-D . Begitulah isi SMS pacar saya. Maknyus yang ia maksud adalah Mak Yus atau Yus, teman saya. Dan ‘demi masa depan kita’ adalah kalimat gombal Yus pada pacar barunya yang ia ucapkan di telepon sementara saya di sampingnya. Alhasil kalimat gombal itu menjadi bahan ceng-ceng-an semua teman pada Yus.

Anyway, pacar saya kebetulan hari Sabtu memang tugas jaga program siaran live, jadi ya, wassalam aja kalau ngarep diapelin mah.

Setelah melalui jalan tol yang seperti tak berujung dan sekali menelepon mbak-mbak Femina untuk memastikan, sampailah kami di MOI yang megah dan besar. Dan… tidak kelihatan seperti mall. Sekelilingnya dipenuhi ruko-ruko. Jadi kayak komplek ruko aja. Setelah sedikit berputar-putar, kami melihat logo Centro dan tanda panah.

Perjuangan hari ini tidak berhenti sampai di sana. Satpam di tempat parkir bilang kalau mau ke Centro naik eskalator dua kali. Sekali naik, nanya lagi, biar pasti. “Naik sekali lagi terus belok kiri, Mbak,” begitu kata mbak-mbak security di lantai berikut. Begitu naik eskalator lagi, mmm… Banyak tukang, debu, dan proyek yang belum jadi. Ada railing yang menutup jalan ke beberapa tempat, menandakan tempat tersebut masih under construction. Wealah…

Saya bertanya lagi pada mbak-mbak bermasker (masker mulut untuk menjaga kebersihan pernapasan ya, bukan masker muka untuk menjadikan kulit mulus). Jawabannya, “Oh, di lantai bawah, Mbak.” Heh? Dua orang yang ditanya sebelumnya menunjukkan lantai ini dan dia bilang di lantai yang lain. Ketika kami mencoba kembali ke lantai sebelumnya, ia memanggil lagi dan menunjuk arah yang ditutup karena masih banyak tukang. Piye toh, Mbak? Ketika saya bertanya pada tukang, yang ditanya cuma bengong. Mungkin si mas-mas tukang itu nggak tau Centro itu apa, lain halnya kalau saya nanya Ramayana.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke arah berlawanan dengan yang ditunjuk mbak-mbak terakhir tadi dengan alasan, ada beberapa orang menuju ke sana dan jalannya relatif sudah lebih bersih. Dan, syukurlah, saya kembali melihat logo Centro dan tanda panah.

Saat registrasi, kami diberitahu bahwa goody bag-nya hanya bisa diambil di akhir acara. Siaul. Padahal kalau nggak seru kan bisa langsung pulang aja.

Terpaksa menunggu, eh kursi yang disediakan cuma sedikit dan sudah terisi penuh. Jadilah Mama duduk di salah satu kursi counter kosmetik dengan cueknya, meniru ibu-ibu yang lain. Daripada berdiri terus padahal lagi puasa?

Perjuangan berikutnya adalah menunggu. Menunggu acara dimulai. Tertulis di majalah acara akan berlangsung pukul 15.00 – 17.00. Saat dihubungi, mbak-mbaknya mengingatkan untuk dating pukul 14.00 karena acaranya dimajukan.  Kami sampai pukul 15.00 dan acaranya belum mulai juga. Hhh…

Akhirnya, sekitar jam empat sore, Ronal Surapradja, sang MC muncul. Bla bla bla, bla bla bla. Pesan sponsor. Bla bla bla, bla bla bla. Gimmick dan kuis. Saya pengen jawab tapi (1) sedikit jaim karena ada Mama, (2) duduk di belakang, di counter kosmetik yang semestinya tidak diperuntukkan untuk menonton, membuat saya sukar dilihat si MC. Cape ah, ngacung-ngacung, lari-lari ke depan, saingan sama ibu-ibu.

Ronal, si MC

Para WF '08

Para WF '08

Setelah akhirnya memperkenalkan para WF 2008, dimunculkanlah Pingkan Mambo. Holy shit. Dia pakai baju pink, rok tutu pink, dan legging pink. Pingkan pun meloncat-loncat menyanyikan Kasmaran.  I was speechless…

Ketika Ronald berbincang-bincang dengan Pingkan Mambo, mama saya berbisik, “Mama kalau liat dia loncat-loncat kayak tadi pake baju aneh kayak gitu, Mama jadi inget Hanoman.” Wakakakakak… Perumpamaan yang mmm, unik, Mam, hehehe…

Sepanjang acara, saya berulang kali menahan kantuk. Alasannya (1) saya baru pulang kantor jam 12-an malam, karena harus hadir di Musik Spesial Ramadhan di Margo City, Depok (BTW, saya berfoto bareng Andra & The Backbone lho, hehehe… Sementara yang lain lebih seneng foto bareng Afghan. Ih, nggak deh…); (2) ini hari pertama saya dapet, yang membuat saya sakit perut dan ngantuk menjadi satu; (3) kerja di TV membuat saya tidak terlalu excited dengan acara-acara yang ada bintang tenar sekalipun; (4) fashion show-nya bener-bener cuma evening gown dan cocktail dress – walaupun bagus-bagus, sementara ini saya belum ada occasion untuk pakai baju kayak gitu dan belum ada body untuk pakai baju kayak gitu.

Satu-satunya yang sedikit menghilangkan kantuk saya adalah kehadiran mas-mas ganteng di depan saya (semoga pacar saya tidak membaca ini). Si mas-mas ini putih, ikal, pakai kemeja garis-garis, blue jeans, postman bag, dan sneakers. Definitely my type (walaupun I don’t mind cowok item maupun putih). Si Mas Ganteng ini sibuk memotret pakai dua kamera digital-nya. Buat apa coba? Di satu saat dia kelihatan ngobrol sama (seseorang yang saya kira) Citra Soebijakto. Terus dia menghilang, terus muncul lagi di depan saya. Pergi lagi. Muncul lagi. Akhirnya saya berpikir untuk curi-curi memotret dia, hehehe… Sekedar untuk dimasukkan ke tulisan saya ini kok. Sayang juga kan kamera digital yang tadinya niat saya bawa untuk memotret baju-baju fashion show yang bisa ditiru malah akhirnya cuma untuk memotret Pingkan Mambo, Ronald, dan acaranya, hanya untuk dokumentasi tulisan saya saja. Jadi ya, seperti yang Anda sekalian lihat, here he was, hehehe… Mudah-mudahan dari yang baca tulisan saya ini nggak ada yang kenal dan kemudian mengadukan pada si Mas Ganteng bahwa ada mbak-mbak penguntit yang diam-diam memotret dia.

Tidak lama sebelum acara berakhir, mama saya berbisik lagi, “MC-nya kayak Ronald ‘Extravaganza’ ya.” Gubrakkkkk… Ya ampun, Ma, Mama kira siapa? “Lho, soalnya rambutnya nggak keriting, jadi Mama kira bukan Ronald,” balas beliau berdalih. Yuk mariiiii…

Acara pun selesai, dengan bersemangat saya menuju meja registrasi tadi untuk menukarkan kupon dengan goody bag yang dinanti-nanti. Eh, ternyata goody bag-nya ada di lantai berikutnya. Haduh, cape juga nih.

Setelah naik lagi, dua tas dari Centro pun di tangan. Tasnya lumayan lah. Semacam travelling bag, tapi paling cuma muat baju buat semalem, tanpa kosmetik dan toiletries yang lengkap ya. Isinya? Cuma satu dompet kain kecil yang paling cukup buat lipstick atau tissue. Terus dikasih dua donat Krispy Kreme dan air mineral Pure Life-nya Nestle buat buka. Yahhh, namanya juga iseng-iseng.

Salah satu tas 'goody bag' yang kami dapat.

Salah satu tas 'goody bag' yang kami dapat.

-)

Tas satunya lagi, lain warna, dikittt banget lainnya :-)

Ketika turun lagi menuju parkiran, terlihatlah Ronald ‘Extra’ yang sudah ganti baju masih berkeliaran di dekat panggung. Iseng, saya tanya apa mama saya mau foto bareng dia. Eh, Mama juga iseng mau. “Daripada cuma dapet tas doang,” katanya.

Jadilah saya menyapa Ronald dan memintanya foto bareng sama Mama. Sambil foto bareng, Mama pun protes kenapa rambutnya Ronald nggak keriting lagi. “Habis banyak yang sama, Tante. Sama Rhoma Irama sama, sama Giring ‘Nidji’ sama,” jawab Ronald. “Tapi kan jadi nggak kenal, Mas,” Mama tetep komen, hehehe…

Mama & Ronal 'Extravaganza'

Yah, begitulah alkisah perjalanan saya ke event-nya Femina. Cape juga yaaa… Tapi cukup seru lah, hehehe…

PS: Kelihatannya si Mas Ganteng adalah salah satu kru Femina. Soalnya pas akhir acara, ada mbak-mbak Femina yang meminta bantuannya membawakan sesuatu. Buat Anda-anda yang punya kenalan di Femina, please kenalkan jangan bilang-bilang soal saya yang memotret si Mas Ganteng ini diam-diam ya, hehehe…

9/6/2008 10:49:29 PM

2 Responses to Mama Saya vs. Pingkan Mambo

  1. nice catch..kesasar tapi enjoy juga baca ceritanya, emang dasarnya manusia nih senang diberi cerita dan bercerita :)

  2. haha… asik banget tuh critanya…
    kocak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s